Berkunjung ke Silicon Valley, Menteri Anas Berdialog tentang SPBE dan GovTech dengan Para Diaspora

San Francisco, Amerika Serikat, ABIM (30/5/2024) – Diaspora Indonesia yang bekerja di Silicon Valley, menyambut hangat kedatangan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Abdullah Azwar Anas. Dari pusat teknologi yang berlokasi di wilayah teluk San Francisco itu, Menteri Anas berdialog tentang pemerintah Indonesia yang mulai memasuki babak baru transformasi digital melalui penerapan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) dan pembentukan Government Technology (GovTech) Indonesia (INA Digital).

“Mereka anak-anak hebat Indonesia. Saya bercerita kepada mereka bahwa Bapak Presiden baru saja meluncurkan GovTech Indonesia,” ujar Menteri Anas, saat berbincang dengan diaspora Indonesia di area Silicon Valley, San Francisco, Rabu (29/05).

Pelaksanaan SPBE di Indonesia telah diakselerasi dan sejalan dengan best practices di dunia. Percepatan tersebut salah satunya berkat langkah strategis yang telah dilakukan, salah satunya dengan membentuk INA Digital sebagai penyelenggara keterpaduan ekosistem layanan digital pemerintah Indonesia yang dilakukan Bapak Presiden beberapa waktu lalu di Istana Negara.

Perlu diingat, GovTech Indonesia yang diberi nama INA Digital adalah penyelenggara keterpaduan ekosistem digital pemerintah Indonesia. INA Digital bertanggung jawab untuk menyelenggarakan aplikasi dan keterpaduan SPBE untuk mewujudkan pelayanan publik yang lebih berkualitas, terpercaya, dan efisien.

Di Silicon Valley, Menteri Anas belajar ilmu yang nantinya bisa diterapkan dalam ekosistem digital Indonesia. INA Digital menjadi gerbang baru bagi pemerintah Indonesia untuk penerapan teknologi di sektor pemerintahan dan pelayanan publik. “Mudah-mudahan dengan GovTech ini kedepannya Indonesia lebh terintegrasi sistem layanan publiknya,” imbuh Anas.

Menteri Anas mengungkapkan, kurang lebih ada 60 warga Indonesia yang bekerja di kantor Google. Salah satunya adalah Alif Raditya, seorang software engineer pada bagian Google Web Crawler.

Alif berkisah, budaya kerja di Google bersifat kolaboratif, serta adanya kebebasan untuk mencoba hal-hal baru diluar tugas pokok mereka. “Kami sering kolaborasi dengan tim artificial intelligent (AI), dan ada kebebasan untuk mencoba produk lain yang tidak berhubungan dengan tugas utama,” ungkap Alif.

Menteri Anas mengapresiasi pemuda Indonesia yang bekerja di pusat inovasi teknologi berkelas dunia itu. Area ini adalah lokasi lahirnya Perusahaan raksasa seperti Google, Apple, Meta, hingga Tesla, perusahaan otomotif milik Elon Musk.

Ia berharap kemampuan mereka di Silicon Valley bisa ‘ditularkan’ ke Tanah Air. “Banyak anak-anak hebat dari Indonesia yang punya peran tidak kecil di perkembangan Google, semoga ilmu mereka nantinya dapat berguna pula bagi transformasi digital di Indonesia,” pungkas Anas.

Similar Articles

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Instagram

Most Popular